AJARAN FILSAFAT MANUSIA DALAM LONTAR AJI TATTWANING WONG CEDANGGA
Keywords:
filsafat manusia, karmaphala, dharma, vidyā, moralitas Hindu,Abstract
Perkembangan modernitas yang ditandai oleh globalisasi, percepatan teknologi digital, relativisme nilai, serta krisis identitas spiritual menghadirkan tantangan serius bagi pembentukan karakter dan moralitas masyarakat Hindu. Dalam konteks tersebut, Lontar Aji Tattwaning Wong Cedangga sebagai teks tattwa Bali menyimpan ajaran filsafat manusia yang potensial menjadi fondasi antropologi spiritual, namun belum banyak dikaji secara sistematis dalam kerangka filosofis yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi filsafat manusia dalam lontar tersebut, mengungkap makna ontologis, epistemologis, aksiologis, dan teleologisnya, serta mengkaji relevansinya dalam pembentukan karakter dan moralitas masyarakat Hindu di era modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika filosofis, melalui analisis teks, interpretasi konseptual, dan studi kepustakaan terhadap sumber-sumber pendukung yang relevan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lontar ini memuat struktur antropologi spiritual yang utuh: manusia dipahami sebagai makhluk karmis dan sekala–niskala (dimensi ontologis); pengetahuan sejati (vidyā) menjadi dasar kesadaran moral (dimensi epistemologis); dharma dan bhakti berfungsi sebagai nilai tertinggi pembentuk karakter (dimensi aksiologis); serta kehidupan diarahkan pada keselamatan dan pembebasan sebagai tujuan akhir (dimensi teleologis). Temuan ini menegaskan bahwa ajaran dalam lontar tersebut bersifat transformatif dan tetap relevan dalam menjawab krisis moral modern. Implikasinya, Lontar Aji Tattwaning Wong Cedangga dapat dijadikan kerangka normatif dalam penguatan pendidikan karakter berbasis spiritualitas Hindu serta sebagai sumber revitalisasi nilai dalam kehidupan sosial masyarakat Hindu kontemporer.
Downloads
References
Ardika, I W. (2017). Sejarah Kebudayaan Bali. Denpasar: Udayana University Press.
Astawa, I G. (2018). Kajian Sastra Lontar Bali. Denpasar: Pustaka Ekspresi.
Astika, I. M. (2018). “Globalisasi dan Disorientasi Moral Generasi Muda Hindu.” Jurnal Dharmasmrti, 20(1), 45–60.
Aryati, A. (2018). Memahami Manusia Melalui Dimensi Filsafat (Upaya Memahami Eksistensi Manusia). El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis, 7(2), 79-94.
Bauman, Z. (2000). Liquid modernity. Polity Press.
Darmaja, I. W. (2018). “Ajaran Moral dalam Lontar Tuturmurti.” Jurnal Agama dan Kebudayaan, 22(1), 12–25
Eliade, M. (1958). The sacred and the profane: The nature of religion. Harcourt Brace.
Febrian, F. (2012). Analisis Resepsi Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang Terhadap Tayangan Iklan Televisi Layanan SMS Premium Versi Ramalan Paranormal. Jurnal The Messenger, 4(2), 50-58.
Gadamer, H.-G. (1975). Truth and method. Continuum.
Giddens, A. (1991). Modernity and self-identity: Self and society in the late modern age. Stanford University Press.
Mahayana, S. (2020). Sastra sebagai Cermin Etika Budaya Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.
Jonas, H. (1984). The imperative of responsibility: In search of an ethics for the technological age. University of Chicago Press.
Kattsoff, L. O. (2004). Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Kaelan. (2010). Filsafat Manusia. Yogyakarta: Paradigma.
Klostermaier, K. K. (2007). A Survey of Hinduism (3rd ed.). Albany: State University of New York Press.
Koento Wibisono. (2012). Filsafat Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Magnis-Suseno, F. (2005). Etika Dasar: Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius.
Sudharta, I. M. G. (2019). Teks-Teks Tattwa dalam Tradisi Lontar Bali. Denpasar: Pascasarjana IHDN Denpasar.
Sura, I. K. (2015). Revitalisasi Ajaran Hindu dalam Kehidupan Modern. Denpasar: Pustaka Larasan.
Suprayoga, Iman dan Tabroni. 2001. Metodologi Penelitian Agama. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Susanto. 2016. Filsafat Hindu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis. Cet 7. Jakarta. Bumi Aksara.
Sudarsana, I. K. (2016). “Filsafat Manusia sebagai Landasan Pendidikan Humanis.” Jurnal Penjaminan Mutu, 2(2), 13–22.
Sudarsana, I. K. (2001). Ajaran karmaphala dalam Hindu. Paramita.
Sukada. 2002. Masalah Sistimasi Analisis Cipta Sastra Prosa. Denpasar Lembaga Penelitian Dokumentasi dan Publikasi Fakultas Sastra Unud.
Sobur, Alex. 2013. “Semiotika Komunikasi”. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Padoux, A. (1990). Vāc: The Concept of the Word in Selected Hindu Tantras.
SUNY Press.
Putra, I B. (2015). Filologi Lontar Bali: Teori dan Praktik. Denpasar: Pustaka Larasan.
Purwosaputro, S., & Sutono, A. (2021). Filsafat manusia sebagai landasan pendidikan humanis. Civis: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Pendidikan, 10(1).
Radhakrishnan, S. (1927). The Hindu view of life. Allen & Unwin.
Radhakrishnan, S. (1993). The Principal Upanishads. New Delhi: Harper Collins.
Ramadhani, T. N. S., Dewi, E. R., & Ismail, S. (2022). Simbol dalam puisi Apparition karya Stéphane Mallarmé. Franconesia, 1(1), 13-20.
Titib, I. M. (2003). Teologi dan Simbol-Simbol dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.
NESCO. (2015). Intangible Cultural Heritage and Traditional Knowledge. Paris: UNESCO Publishing.
Wiana, I K. (2004). Makna Upacara dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.
Wirawan, G. N. (2024). Filsafat Manusia Dalam Lontar Tattwa Sangkaning Dadi Janma. Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu, 6(1), 45-57.
Zaprulkhan. 2015. Filsafat Ilmu Sebuah Analisis Kontemporer. Pt RajaGrafindo Persada. Jakarta.
Zimmer, H. (1972). Myths and Symbols in Indian Art and Civilization. Princeton University Press.