UNIFIKASI DIVERSITAS BERBASIS SUBAK ANTARA NYAMA BALI DAN NYAMA SELAM DI DESA TEGALLINGGAH, BULELENG, BALI: DEKONSTRUKSI KONVERGENSI BERBASIS HARMONISASI DALAM PERSPEKTIF POS-STRUKTURALISME
Keywords:
idiom, nyama, pos-strukturalismeAbstract
Penyebutan nyama Bali dan nyama Selam adalah idiom yang tidak bebas nilai, karena mengarahkan yang sosial ke dalam suatu arena, dengan tujuan mengakumulasikan modal akumulatif serta modal otoritatif. Penggunaan istilah emik untuk memperkuat integrasi antar individu, tidak murni untuk mengintegrasikan tiap agen. Penelitian ini mempergunakan pendekatan kualitatif, dalam selingkung studi kasus. Teknik pengumpulan data diperoleh dengan melakukan observasi, wawacara dan studi dokumen. Metode analisis data terdiri dari beberapa tahap, seperti pengumpulan data, reduksi data dan penarikan kesimpulan. Pemberian status nyama dalam sistem subak di Desa Tegallinggah adalah konstruksi pengetahuan untuk menguasai individu lain. Pendekatan pos-strukturalisme melihat bahwa, upaya mengarahkan entitas sosial ke dalam ruang konformitas yang inklusif dan harmoni dengan menyematkan idiom tertentu, dilatarbelakangi suatu kepentingan. Analisis kontemporer dalam melihat nyama sebagai aspek semiotis yang tidak hanya merepresentasikan akumulasi modal sosial, tetapi bertujuan untuk memelihara keberlangsungan sistem ekonomi, sebagai sumber daya akumulatif determinan. Dalam konteks sumber daya otoritatif, ada agen yang bertugas mengatur siklus pembagian air, petani yang ingin menerima air, harus mendapatkan persetujuan dari otoritas subak.