UPACARA MAPENINGAN NGAMEDALANG IDA RATU HYANG SAKTI PINGIT DI PURA BALE AGUNG DESA PAKRAMAN KUBUTAMBAHAN KABUPATEN BULELENG: KAJIAN FILSAFAT HINDU
Keywords:
Mapeningan, Ngamedalang, Ida Ratu Hyang Sakti Pingit, Teologi Hindu, Tradisi BaliAbstract
Upacara Mapeningan Ngamedalang Ida Ratu Hyang Sakti Pingit merupakan salah satu tradisi keagamaan Hindu yang masih lestari di Desa Pakraman Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali. Tradisi ini merupakan bentuk pemujaan kepada Ida Ratu Hyang Sakti Pingit yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali pada Purnama Kapat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi pelaksanaan upacara, menganalisis fungsi yang terkandung di dalamnya, serta mengungkap makna teologis yang menjadi landasan pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi Upacara Mapeningan Ngamedalang Ida Ratu Hyang Sakti Pingit terdiri atas beberapa tahapan, yaitu maboros, menyanjan, matata linggih, nongnongan, mandik pingitan, ngamedalang, nyangling, mapeningan ke segara, dan ngantukang. Seluruh rangkaian tersebut merupakan bentuk penyucian Pralingga Ida Ratu Hyang Sakti Pingit sekaligus media peningkatan sraddha dan bhakti umat Hindu. Fungsi upacara meliputi fungsi religius, sosial, pendidikan, pelestarian budaya, dan pelestarian nilai-nilai adat. Makna yang terkandung dalam upacara meliputi makna teologis, filosofis, simbolis, etis, spiritual, dan keharmonisan berdasarkan konsep Tri Hita Karana.