CATUR MARGA: Refleksi Kritis Pembelajaran Konstruktivisme dan Relevansinya dengan Empat Pilar Pendidikan UNESCO
Keywords:
Catur Marga, konstruktivisme pendidikan, empat pilar pendidikan, refleksi kritis paradigma pendidikan di IndonesiaAbstract
Asumsi umum menyatakan bahwa pendidikan sebagai sarana untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan tidaklah terbantahkan, namun pendapat yang mengatakan pendidikan hanya didapat di lingkungan formalis saja sangatlah naif, karena mengesampingkan kemungkinan lain dimana pendidikan juga didapat dari model pendidikan non-formal (andragogis), seperti; pendidikan pasraman, pendidikan ashram, pendidikan pesantren, dan sebagainya. Paradigma konservatif dengan segala atributnya, seperti; fundalisme pendidikan, intelektualisme pendidikan, dan konservatisme pendidikan, pada dasarnya lebih ke arah pencapaian bentuk pendidikan yang bersifat quo-vadis dan menjaga harmonisasi saja, tanpa ada pengkritisan dari segenap pra-kondisi maupun pasca-kondisi pengetahuan dan kesadaran yang sudah ada. Konsep ini pada dasarnya tidak terlalu jauh dari pandangan “pemapanan” belaka akan praktik-praktik pendidikan memenjarakan (pendidikan membelenggu), yang pada akhirnya memunculkan asumsi/stigma bahwa intelektualisme pendidikan-pun tidak terlepas dari subjek kepentingan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis ajaran Catur Marga sebagai pola pendidikan pasraman yang mengadopsi pola-pola pendidikan bertahap dan berjenjang yang dalam istilah pendidikan sekarang disebut dengan pola pembelajaran konstruktivisme. Pola ini banyak diterapkan dengan tujuan individu maupun masyarakat pembelajar mampu mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui serangkaian pengalaman belajar, yang ternyata pola ini sejalan dengan empat pilar pendidikan yang dicetuskan oleh UNESCO, yang secara bertahap penerapannya meliputi; (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to live together, dan (4) learning to be.
