INTERNALISASI NILAI TRI HITA KARANA MELALUI TARI JANGKANG SEBAGAI MODEL PENDIDIKAN KARAKTER RELIGIUS
Keywords:
Tari Jangkang, Tri Hita Karana, dance transmission, religious character education, cultural preservationAbstract
Tari Jangkang is a sacred dance inherited by the Bali Aga community of Cempaga Village, performed during the Kuningan holy day ceremony as a sacred offering to Ida Sang Hyang Widhi Wasa. This study aims to identify the values of Tri Hita Karana embedded in Tari Jangkang, analyze the process of value internalization through dance transmission, position Tari Jangkang as a model of religious character education, and map the challenges and opportunities for its preservation in the modern era. This study employs a qualitative approach with an ethnographic strategy, using observation, in-depth interviews, and documentation study, analyzed interpretively through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the three dimensions of Tri Hita Karana—parahyangan, pawongan, and palemahan—are concretely manifested and integrated within every element of the dance, from the sacredness of its performance and the social rules governing dancer selection, to the use of locally sourced traditional attire. The transmission of Tari Jangkang occurs informally through elder dance masters without the presence of a formal studio (sanggar), employing mechanisms of exemplary modeling, cyclical ritual habituation, embodied experiential learning, and sacred spatiotemporal restriction, which together constitute a tradition-based model of religious character education. This study also identifies challenges such as regeneration vulnerability, globalization pressures, limited documentation, and rural-urban migration, alongside opportunities including legal protection frameworks for sacred dances, limited digital documentation, and the strengthening of local identity among younger generations. This study recommends a "protective visibility" preservation approach that balances formal recognition with the safeguarding of sacredness and informal transmission pathways.
References
Antara, I. K. A., Setiawati, N. K., Dwijayanti, K. P., & Agung, A. A. G. (2024). The road to harmony: Developing character-based souls through the implementation of Tri Hita Karana (THK) in elementary schools based on local wisdom. Jurnal Administrasi Pendidikan Indonesia.
Ardiyani, L. P. C., Pitriani, K., & Jero, N. W. J. (2025). Rejang Pedawa dance as a medium for ethnopedagogical-based adolescent learning. Dharmakirti: International Journal of Religion, Mind and Science, 2(2), 137-151.
Citrawati, A. A. I. A., Nurmalena, N., Oktavianus, O., Admiral, A., & Hardi, H. (2025). Revitalisasi Tari Tradisional di Era Digital: Sinergi Nilai Budaya, Inovasi Teknologi, dan Seni. Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi Dan Vokasional, 7(1), 1-13.
Damariswara, R., Wiguna, F. A., Khunaifi, A. A., & Nurwenda, D. D. (2021). Penyuluhan pendidikan karakter adaptasi Thomas Lickona. Dedikasi Nusantara: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pendidikan Dasar, 1(1), 33–39.
Elvandari, E. (2020). Sistem pewarisan sebagai upaya pelestarian seni tradisi. GETER: Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik, 3(1), 93–104.
Erawati, N. M. P. (2024). Filsafat tari dalam kebudayaan Bali. Widyadari, 25(1), 173-182.
Fadhilah, N., Usriadi, A. Y., & Gusmaneli, G. (2025). Peran pendidikan Islam sebagai solusi krisis moral generasi Z di era globalisasi digital. Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Agama Islam, 3(3), 230-237.
Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. (2019). Penguatan dan pelindungan tari sakral Bali. https://isi-dps.ac.id/penguatan-dan-pelindungan-tari-sakral-bali/
Izzati, U. A., Bachrı, B. S., Sahid, M., & Indriani, D. E. (2019). Character education: Gender differences in moral knowing, moral feeling, and moral action in elementary schools in Indonesia. Journal for the Education of Gifted Young Scientists, 7(3), 547-556.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif (edisi revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya
Nasrudin, E., Sandi, M. K., Alfian, M. I. R., & Fakhruddin, A. (2023). Penguatan pendidikan karakter religius melalui ekstrakurikuler keagamaan di SMA Negeri 3 Bandung. Jurnal Pendidikan Karakter, 14(1), 11–19. https://doi.org/10.21831/jpka.v14i1.55288
Purandina, I. P. Y. (2020). Pendidikan karakter tumbuh subur di lingkungan keluarga selama pandemi COVID-19. COVID-19: Perspektif Pendidikan, 11(1), 99-114.
Rasmini, N. W. (2022). Implementation strategy of Tri Hita Karana in the family toward a healthy community. Indonesian Journal of Educational Research and Review.
Rangga Lawe, I. G. A., Irfansyah, I., & Ahmad, H. A. (2020). Animasi sebagai media pendidikan karakter berbasis Tri Kaya Parisudha untuk anak-anak. Mudra Jurnal Seni Budaya, 35(2), 242–249. https://doi.org/10.31091/mudra.v35i2.975
Ritonga, S. A., Octavianingrum, D., & Iswantara, N. (2023). Nilai pendidikan karakter religius Tari Ratoeh Jaroe pada ekstrakurikuler MAN 1 Yogyakarta. IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan, 17(1), 121–132.
Rosala, D., Masunah, J., Narawati, T., Karyono, T., & Sunaryo, A. (2021). Internalisasi nilai Tri-Silas melalui pembelajaran tari anak berbasis budaya lokal. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 1973-1986.
Sari, P. Y. P. K. (2024). Pergeseran sistem pewarisan Tari Topeng Banjar dalam tradisi Manopeng Banyiur di Banjarmasin. Pelataran Seni, 9(1), 21–36.
Sedyawati, E. (1981). Pertumbuhan seni pertunjukan. Sinar Harapan.
Suartini, N. N., Putra, I. N. D., & Artini, L. P. (2020). Local wisdom-based character education through Balinese arts. International Journal of Instruction.
Supriani, N. M., Arnyana, I. B. P., & Suja, I. W. (2025). Implementasi kearifan lokal Bali Tri Hita Karana dalam pembelajaran sekolah dasar di Bali. Jurnal Pendidikan Guru
Suryawan, I. P. P., Sutajaya, I. M., & Suja, I. W. (2022). Tri Hita Karana sebagai kearifan lokal dalam pengembangan pendidikan karakter. Jurnal Pendidikan Multikultural Indonesia, 5(2), 50-65.
Suta, I. M. (2009). Pementasan Barong dan Rangda. Mudra: Jurnal Seni Budaya, 24(1), 46–56.
Tirtayanti, N. K., Pratiwi, N. L. P. D. N., & Anul, A. A. (2025). Melestarikan seni tari Bali oleh Generasi Z dalam upaya memperkenalkan seni dan budaya untuk menuju Indonesia Emas 2045. Prosiding Pekan Ilmiah Pelajar (PILAR), 5.
Tohari, M., & Astuti, F. (2026). INTEGRASI NILAI FILOSOFIS BUDAYA LOKAL DALAM PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN TARI UNTUK MENINGKATKAN APRESIASI SENI SISWA. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11(01), 118-130.
Wulan, N., Wakhyudin, H., & Rahmawati, I. (2019). Ekstrakurikuler seni tari dalam membentuk nilai karakter bersahabat siswa. Indonesian Values and Character Education Journal, 2(1), 28-35.